Nganjuk (cokronews.com) —- Gerakan perubahan berbasis literasi di era modern kini tidak lagi sekadar bermakna kemampuan membaca dan menulis gratis, melainkan kecakapan dalam menyerap informasi, berpikir kritis, serta mengaplikasikan pengetahuan untuk menyelesaikan problematika kehidupan sehari-hari. Gagasan tersebut dikupas tuntas melalui program dialog interaktif di 105,3 Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL FM) pada Rabu (10/6/2026). Dialog inspiratif bertajuk “Relawan Literasi: Dari Gerakan Literasi Menuju Gerakan Perubahan” ini menghadirkan dua personil Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Kabupaten Nganjuk, yaitu Yunita Nurmalasari dan Diah Shanti U, yang kini hadir sebagai jembatan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di tingkat akar rumput.
Yunita Nurmalasari menjelaskan bahwa Relima merupakan inisiasi resmi dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI). Melalui sistem seleksi terbuka yang ketat, mulai dari penyaringan berkas esai rencana aksi hingga wawancara daring langsung dengan pihak Perpusnas RI, terpilihlah para pegiat literasi dengan rekam jejak minimal lima tahun untuk diterjunkan ke daerah asal masing-masing. Diah Shanti menambahkan bahwa di Kabupaten Nganjuk saat ini amanah tersebut diberikan kepada dua orang relawan yang bertindak sebagai aktivator, katalisator, sekaligus fasilitator gerakan membaca, pendampingan komunitas, serta menginventarisasi bantuan literasi dari pusat agar dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat setempat.
Meskipun bergerak dengan target indikator dari pusat, kedua relawan diberikan kebebasan berinovasi menyusun program kerja berdasarkan karakteristik sasaran di lapangan. Di sektor literasi seni budaya untuk remaja, Diah Shanti berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata, Kepemudaan, Olahraga, dan Kebudayaan (Disparporabud) Nganjuk dalam agenda Art Exhibition untuk menjaring talenta muda dalam pembuatan ilustrasi buku cerita bergambar yang bernilai ekonomi. Sementara itu, di sektor literasi keluarga, Yunita Nurmalasari merancang program Mutiara Keluarga (Mama Terampil Bercerita dan Membaca untuk Keluarga) yang diintegrasikan dengan pelayanan Posyandu Balita desa guna mengedukasi para ibu menggunakan metode membaca nyaring (read aloud) sekaligus menghidupkan kembali eksistensi Perpustakaan Desa.
Dalam perjalanannya sejak awal Juni 2026, Relima Nganjuk menemui berbagai fenomena unik di lapangan yang memerlukan pendekatan kreatif. Seperti di Desa Mancon, Kecamatan Wilangan, di mana fasilitas perpustakaan desa memadai namun minim pengunjung sehingga pihak desa berinovasi menjemput anak sekolah menggunakan kendaraan pribadi, sedangkan di Kelurahan Begadung, keterbatasan ruang baca disiasati dengan meletakkan rak buku di ruang tamu pelayanan publik. Relima juga terus mendorong penguatan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) agar perpustakaan dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) tidak sekadar menjadi tempat meminjam buku, melainkan wadah pelatihan praktis seperti literasi keuangan, memasak, dan berkreasi demi mendongkrak keterampilan hidup masyarakat.
Guna memperluas daya jangkau gerakan, Relima Nganjuk membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya bagi instansi pemerintahan, pihak swasta, TBM, maupun komunitas literasi lokal. Salah satu agenda terdekat yang tengah dipersiapkan adalah program “Jangkau Sudut Anjuk Ladang” yang akan dilaksanakan secara berpindah di sebuah kafe wilayah Nganjuk Timur guna merangkul para pegiat literasi yang belum tersentuh di pusat kota. Slogan sederhana “Bergerak bersama, berdampak bersama” menjadi pemantik bagi tim Relima Nganjuk dengan harapan gerakan gotong royong ini dalam jangka panjang mampu melahirkan masyarakat Nganjuk yang bijaksana dalam mengambil keputusan demi masa depan yang lebih berdaya.







