CokroNews KEDIRI – Ribuan calon jemaah haji (CJH) Kabupaten Kediri terus memantapkan persiapannya. Sebanyak 1.285 CJH menjalani manasik terakhir di Convention Hall Simpang Lima Gumul (SLG) kemarin. Termasuk di antaranya Marsiah, 104, jemaah tertua.
Nenek asal Desa Bulu, Kecamatan Semen itu sekaligus menjadi jemaah tertua di Kabupaten Kediri dan se-Indonesia. Berjalan menggunakan tongkat, mobilitas perempuan dengan usia lebih dari satu abad itu masih relatif baik.
Setelah uang terkumpul, dia memberanikan diri mendaftar haji pada 2021 lalu. Sebagai jemaah tertua, dia tidak perlu antre terlalu lama. “Alhamdulillah kesampaian (berangkat haji),” ungkap perempuan yang kemarin sempat berbincang dengan Wakil Bupati Dewi Mariya Ulfa itu.
Untuk diketahui, pelepasan ribuan CJH Kabupaten Kediri kemarin dilakukan oleh Wabup Dewi. Mewakili Bupati Hanindhito Himawan Pramana, Dewi menekankan pentingnya persiapan fisik jemaah. Sebab, aktivitas ibadah di Makkah dan Madinah bakal menguras stamina.
Lebih jauh perempuan asal Kras itu menegaskan, CJH Kabupaten Kediri terbagi dalam empat kloter. Yakni kloter 109, 110, dan 111 yang berangkat pada 19 Mei 2026. Sedangkan kloter 112 akan menyusul pada 20 Mei 2026 bergabung dengan jemaah asal Nganjuk.
Seperti tahun lalu, Pemkab Kediri kembali membekali jemaah dengan makanan khas Kabupaten Kediri. Tiap jemaah diberi sambel pecel, sambel tumpang instan, serta payung dan saus sambal.
Selain bekal makanan, pemkab juga memberi dukungan akomodasi berupa penggratisan biaya koper untuk pemberangkatan dan pemulangan. Selain itu, ada enam orang pendamping jemaah yang biayanya sepenuhnya ditanggung oleh pemkab dari APBD. Kepala Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Kediri Abdul Kholiq Nawawi menjelaskan, jemaah tertua disandang oleh Marsiah.
Lebih jauh Kholiq menegaskan, jemaah kloter 110, 111, dan 112 akan masuk dalam program tanazul. Menanggapi situasi keamanan internasional di Timur Tengah, Kholiq meminta jemaah untuk tetap tenang.













