Warga di Gayam Kota Kediri Menolak Hasil Appraisal Pengadaan Tanah Tol Kediri-Tulungagung

Kediri (cokronews.com) —- Pengadaan tanah Tol Kediri-Tulungagung (Ki Agung) kembali terhambat. Warga di Kelurahan Gayam, Mojoroto, yang sebelumnya menyatakan pikir-pikir, tegas menolak hasil appraisal (penaksiran harga tanah, Red) di wilayahnya. Alasannya, harga yang ditawarkan terlalu murah dari harga pasaran.

Penolakan harga tersebut datang dari sejumlah warga Kelurahan Gayam yang mengikuti musyawarah pertama, pengadaan tanah gelombang kedua pada Kamis (2/5) lalu. Pertemuan untuk menyampaikan hasil penaksiran harga dari kantor jasa penilai publik (KJPP) itu mendapat respons yang beragam.
Nur Kholis, salah satu warga terdampak mengatakan nilai appraisal masih di bawah harga wajar daerah tersebut. Sebelumnya, salah satu warga menyebut tanahnya dihargai Rp 3,2 juta per meter. Namun, ia menepis pernyataan itu. Sebab, di lingkungan RT 02/I rata-rata tanah pekarangan dihargai Rp 2,2 juta per meter. Sedangkan tanah sawah dihargai Rp 1,3 juta per meter.

“Kalau ternyata benar Rp 3,2 juta, saya malah senang. Tetapi yang saya tahu, semua rata-rata Rp 2,2 juta per meter untuk tanah pekarangan,” ujarnya. Dengan alasan harga itu pula, hingga kemarin warga belum memberi persetujuan. Alasannya, dengan lokasi lahan yang strategis mereka bisa mendapat harga yang lebih tinggi.

“Kalau hanya segitu, di dekat UB (Kampus negeri Universitas Brawijaya, Red) ya tidak umum. Sekarang ada tanah di dekat UB yang dijual sudah Rp 3,5 juta per meter,” lanjutnya.

Hal serupa disampaikan Indah, 50, bukan nama sebenarnya. Jika warga lainnya mempersoalkan harga tanah, ia justru menyoroti nilai ganti rugi terhadap bangunan dan tanamannya.

“Karena kalau tanah sepertinya kan sudah nggak bisa berubah, sudah dikunci. Yang saya sayangkan itu nilai bangunan dan tanaman saya,” ujarnya.

Rumahnya juga merangkap toko kelontong tergolong strategis lokasinya. Sedangkan lahan pekarangannya juga mencakup belasan pohon buah yang masih produktif.

“Rumah saya ini juga sudah keramik sampai belakang. Dan toko saya ini juga alhamdulillah ramai terus. Mungkin juga akses jalannya besar,” sambungnya terkait bangunan yang berdiri di lahan seluas sekitar 600 meter persegi itu.

tergesa-gesa. Dia memilih mencermati semua item dengan teliti. Apalagi, aset tersebut masih harus dibagi dengan lima orang waris lainnya.

“Kalau saya memang belum tanda tangan karena masih ada yang harus saya tanyakan (klarifikasi sanggahan, Red) ke BPN,” tandasnya sembari menyebut akan mendatangi BPN bersama warga lainnya.

Sebelumnya, sebanyak 19 bidang di Kelurahan Gayam kembali memasuki tahap musyawarah. Dari musyawarah pertama untuk gelombang kedua itu, baru enam warga yang langsung memberikan persetujuan. Sisanya masih pikir-pikir dan menolak.

Untuk diketahui, proyek tol Ki Agung akan dikerjakan oleh PT Surya Sapta Agung Tol. Perusahaan tersebut menginvestasikan dana senilai Rp 9,92 triliun. Sesuai rencana, proyek fisik akan dimulai pada kuartal kedua atau antara April hingga Juni nanti. Selanjutnya, proyek ditargetkan selesai kuartal ketiga tahun depan.

Proyek strategis nasional itu akan membentang sepanjang 44,17 kilometer (km), mulai dari Kota Kediri, Kabupaten Kediri, dan Kabupaten Tulungagung. Dari puluhan kilometer ruas yang akan dibangun, sebanyak 37,35 km merupakan main road. Sedangkan 6,82 km lainnya merupakan akses ke Bandara Dhoho.

Jalan tol didesain dengan jalur 2×2. Dengan lebar mencapai 2×3,6 meter. Tol Ki Agung juga akan memiliki empat simpang susun. Yakni di Bulawen, Mojo, Kediri, dan Tulungagung.(adv)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *