Relawan Pendidikan Sukma Bangsa Dan Fisipol UGM Dampingi Anak Terdampak Bencana Di Aceh

Banjarnegara ( cokronews.com ) —– Upaya menjaga keberlangsungan pendidikan bagi anak-anak terdampak bencana di Aceh terus dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak. Relawan Pendidikan dari Sekolah Sukma Bangsa (SSB) bersama Fisipol UGM Mengajar terjun langsung memberikan pendampingan pembelajaran di lokasi pengungsian dan sekolah darurat.

Para relawan saat ini mendampingi siswa yang menjalani proses belajar mengajar di tenda-tenda darurat, baik di lingkungan pengungsian maupun sekolah yang belum dapat beroperasi secara normal. Kegiatan tersebut difokuskan untuk memastikan hak belajar anak-anak tetap terpenuhi pascabencana.

Koordinator Relawan Pendidikan, Victor Yasadana atau yang akrab disapa Tongky, pada Rabu (21/1/2026) melaporkan bahwa pendampingan dilakukan di sejumlah titik terdampak. Di antaranya di Serempah, lokasi SD Negeri 10 Ketol, Kecamatan Ketol, yang masih melaksanakan pembelajaran di tenda darurat. Selain itu, relawan juga mendampingi kegiatan belajar di SMP Negeri 9 Bintang, Kecamatan Bintang; SD Negeri 11 Linge di Pantan Nangka, Kecamatan Linge; serta SMP Negeri 22 Lut Tawar, Takengon.

Tidak hanya di wilayah Aceh Tengah, relawan pendidikan juga bergerak di daerah lain seperti Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, serta Aceh Tamiang. Pendampingan ini dilakukan agar anak-anak tetap dapat belajar dan tidak kehilangan semangat meskipun berada dalam kondisi darurat.

Dalam waktu dekat, SSB dan Fisipol UGM Mengajar juga menyiapkan penambahan relawan. Sekitar 60 relawan baru dijadwalkan mengikuti pelatihan di Sekolah Sukma Bangsa Pidie pada 28–30 Januari 2026. Usai pelatihan, para relawan akan diterjunkan ke sejumlah wilayah terdampak, termasuk rencana penempatan di Kabupaten Gayo Lues.

Seiring kondisi yang berangsur membaik, sejumlah sekolah mulai kembali melaksanakan pembelajaran secara normal, khususnya sekolah-sekolah yang tidak mengalami kerusakan berat. Namun demikian, masih terdapat sekolah yang harus menjalankan proses belajar di tenda atau lokasi pengungsian.

Untuk itu, pihak relawan berharap adanya dukungan data dan informasi dari pemerintah daerah terkait sekolah-sekolah yang masih berada dalam kondisi darurat, setidaknya hingga menjelang Ramadan 2026. Informasi tersebut diperlukan sebagai dasar assessment penempatan relawan lanjutan di sejumlah wilayah seperti Pidie Jaya, Bireuen, Bener Meriah, Takengon, Gayo Lues, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Gayo Lues, Basri, S.Pd, menyampaikan bahwa dampak banjir di wilayahnya masih cukup signifikan. Berdasarkan data sementara, tercatat sebanyak 249 rumah siswa terdampak banjir, sehingga proses belajar mengajar masih dilakukan dengan berbagai keterbatasan.

“Kami masih membutuhkan bantuan peralatan sekolah, mulai dari seragam, tas, alat tulis, hingga perlengkapan belajar lainnya. Saat ini siswa dan guru masih belajar dan mengajar dengan kondisi seadanya,” ujar Basri.

Menanggapi kondisi tersebut, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menegaskan bahwa keberlangsungan pembelajaran harus tetap menjadi prioritas, meskipun berada dalam situasi darurat bencana. Menurutnya, menumbuhkan optimisme kepada siswa sangat penting agar semangat belajar tetap terjaga.

“Optimisme ini harus terus dibangun agar anak-anak tetap memiliki harapan dan masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh relawan dan pihak yang telah berkontribusi dalam mendukung pendidikan di wilayah terdampak bencana. Kolaborasi lintas pihak tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat pemulihan sektor pendidikan di Aceh.