Probolinggo ( cokronews.com ) — Kelompok Tani (Poktan) Gunung Sari Lima Desa Gunung Tugel Kecamatan Bantaran mendapatkan pelatihan pembuatan pupuk organik padat dengan memanfaatkan limbah kotoran ternak sebagai bahan baku utama, Senin (18/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di rumah Sunati, Desa Gunung Tugel tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pertanian ramah lingkungan sekaligus menekan biaya produksi petani melalui pemanfaatan bahan organik lokal.
Pelatihan diikuti anggota Poktan Gunung Sari Lima, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) BPP Bantaran serta petugas POPT Perkebunan. Kegiatan dipandu langsung oleh Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Perkebunan Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya Ika Ratmawati.
Ika Ratmawati mengatakan pelatihan tersebut bertujuan mendorong kemandirian petani dalam memproduksi pupuk organik secara mandiri dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Rata-rata petani di sini memiliki ternak sehingga limbah ternak bisa dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku pupuk organik. Setelah pelatihan ini kami berharap petani semakin yakin bisa memproduksi pupuk sendiri dengan biaya murah dan hasil yang lebih baik,” katanya.
Menurut Ika, pupuk organik padat tersebut dibuat dari campuran 1 ton kotoran ternak kering usia minimal tiga bulan, dedak 50 kilogram, serbuk gergaji 50 kilogram, molase 1 liter, dekomposer 1 liter dan air 50 liter. “Seluruh bahan dicampur kemudian difermentasi selama 14 hari sebelum siap diaplikasikan ke lahan pertanian,” jelasnya.
Ika menambahkan penggunaan pupuk organik tersebut cukup mudah karena dapat dicampurkan sebagai media tanam maupun diberikan satu genggam per lubang tanam sebagai pupuk dasar maupun pupuk tambahan.
Dukungan terhadap gerakan pertanian organik juga disampaikan Koordinator PPL BPP Bantaran M. Teguh Aristo Adhy. Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan mampu mengubah pola pikir petani agar tidak terus bergantung pada pupuk kimia.
“Petani perlu mulai memanfaatkan potensi lokal yang ada di sekitar mereka. Limbah ternak yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata bisa diolah menjadi pupuk organik padat yang kaya nutrisi,” ujarnya.
Sementara PPL Desa Gunung Tugel Ridho Susilo Wahyudi menyampaikan dukungan penuh terhadap gerakan pertanian organik yang mulai dikembangkan para petani binaannya. “Kebiasaan penggunaan bahan kimia oleh petani sudah sangat tinggi dan membuat biaya produksi besar. Karena itu kami mendukung penuh gerakan pertanian organik yang ramah lingkungan dan lebih hemat biaya,” terangnya.
Ketua Poktan Gunung Sari Lima Desa Gunung Tugel Sunati mengaku optimistis pelatihan tersebut mampu mendorong petani lebih mandiri dan perlahan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
“Kami ingin anggota kelompok tani bisa menggali potensi lokal dan menjadi kelompok tani yang aktif serta mandiri dalam menghadapi semakin sulitnya mendapatkan sarana pertanian yang ramah lingkungan,” ungkapnya.
Ke depan, pihaknya berharap pendampingan terus dilakukan agar petani semakin mampu menerapkan budidaya pertanian yang hemat biaya namun tetap menghasilkan produksi optimal. “Kami ingin terus didampingi untuk mewujudkan pertanian yang irit biaya, hasil memuaskan dan berkelanjutan,” pungkasnya.













