Penguatan Ekosistem Keroncong, Jalan Regenerasi Menjaga Warisan Budaya Bangsa

Lumajang ( cokronews.com ) —– Upaya memperkuat ekosistem musik keroncong terus digalakkan sebagai strategi menjaga keberlanjutan salah satu warisan budaya bangsa sekaligus membuka ruang regenerasi bagi musisi muda. Keroncong tidak sekadar diposisikan sebagai musik tradisi, tetapi sebagai identitas budaya yang merekam perjalanan sejarah dan karakter bangsa Indonesia.

Ketua Orkes Keroncong Pagar Cakrawala, Winoto, menegaskan bahwa tantangan terbesar pelestarian keroncong saat ini terletak pada minimnya regenerasi. Ketertarikan generasi muda terhadap musik keroncong masih terbatas, seiring kuatnya dominasi musik modern dan citra keroncong yang kerap dianggap kuno serta kurang adaptif terhadap perkembangan zaman.

“Di tengah arus globalisasi dan dominasi musik modern, keroncong membutuhkan ruang yang kuat agar tetap hidup dan relevan lintas generasi,” ujar Winoto usai tampil dalam siaran live musik keroncong Pagar Cakrawala di LPPL Radio Suara Lumajang, Rabu (21/1/2026) malam.

Menurutnya, penguatan ekosistem menjadi kunci utama membuka partisipasi generasi muda. Ekosistem musik keroncong tidak hanya mencakup aspek pertunjukan, tetapi juga pendidikan, komunitas, ruang ekspresi, hingga dukungan industri kreatif. Dalam konteks ini, peran pemerintah daerah dinilai strategis sebagai fasilitator sekaligus penggerak ruang-ruang apresiasi budaya.

“Penyelenggaraan event keroncong seperti di Radio Suara Lumajang bukan hanya sarana hiburan, tetapi ruang regenerasi dan promosi budaya lokal,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Winoto menekankan pentingnya kolaborasi lintas generasi sebagai jembatan pewarisan nilai dan teknik bermusik keroncong. Musisi senior berperan mentransfer pengetahuan dan tradisi, sementara musisi muda menghadirkan inovasi yang memperkaya warna keroncong tanpa meninggalkan jati dirinya.

Selain aspek kultural, integrasi keroncong dengan sektor ekonomi kreatif dinilai membuka peluang keberlanjutan secara ekonomi bagi para pelakunya. Keroncong dapat dikembangkan dalam paket pariwisata budaya, pertunjukan seni, hingga produk kreatif berbasis lokal.

“Musik keroncong tidak hanya harus bertahan secara kultural, tetapi juga mampu memberi nilai tambah ekonomi bagi komunitasnya,” imbuhnya.

Winoto berharap sinergi antara pemerintah, komunitas seni, dunia pendidikan, dan pelaku industri kreatif semakin diperkuat. Dengan ekosistem yang kokoh dan berkelanjutan, musik keroncong diyakini tidak hanya mampu bertahan, tetapi berkembang sebagai ruang regenerasi yang melahirkan musisi muda berkualitas sekaligus menjaga warisan budaya bangsa tetap hidup di tengah dinamika zaman.