Berita  

Pemkab Ponorogo Perkuat Regenerasi untuk Lestarikan Reog sebagai Warisan Dunia UNESCO

Ponorogo ( cokronews.com )—– Penetapan Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO membawa tanggung jawab besar bagi Kabupaten Ponorogo dalam menjaga keberlanjutannya. Pemerintah daerah kini memperkuat strategi pelestarian melalui regenerasi seniman dan sistem pendidikan budaya yang berjenjang.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Ponorogo, Judha Sarwo Edi, menjelaskan bahwa dalam action plan yang disampaikan ke UNESCO, pelestarian Reog dilakukan dengan skema transmisi berlapis.

“Di Ponorogo, kesenian reog masuk muatan lokal yang menjadi materi wajib pembelajaran mulai PAUD hingga SMA sederajat,” ujar Judha, Rabu (6/5/2026).

Selain melalui pendidikan formal, pelestarian juga diperkuat lewat berbagai festival rutin seperti Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) dan Festival Reog Remaja (FRR) yang digelar dalam rangka Grebeg Suro setiap tahun. FNRP melibatkan pelajar SMA, mahasiswa, hingga sanggar seni, sementara FRR diperuntukkan bagi pelajar SMP.

Ke depan, pemerintah daerah juga membuka peluang digelarnya Festival Reog Anak (FRA) untuk tingkat SD, sebagai bagian dari pembinaan sejak usia dini. Bahkan pengenalan Reog sudah dimulai di PAUD melalui media edukatif seperti reog wayang golek.

“Anak-anak ini menjadi pondasi pelestarian Reog Ponorogo. Transmisi berjenjang akan terjadi dengan sendirinya,” jelasnya.

Judha menambahkan, sistem ini dirancang agar para penampil di level festival nantinya dapat berkembang menjadi pelatih seni tari maupun gamelan Reog. Dengan demikian, regenerasi seniman dapat terus berjalan secara alami dari generasi ke generasi.

Selain itu, Dinas Pendidikan Ponorogo juga berperan penting dengan mewajibkan kegiatan ekstrakurikuler Reog di sekolah-sekolah. Kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, guru, dan seniman menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan kesenian tersebut.

“Muncul kesepahaman bahwa Reog adalah potensi dan keunikan daerah yang harus terus dijaga,” pungkasnya.

Upaya ini memperlihatkan komitmen Ponorogo tidak hanya mempertahankan status Reog sebagai warisan budaya dunia, tetapi juga memastikan keberlanjutannya melalui generasi muda.

Leave a Reply