Harga Bawang Merah Melambung Tinggi, Pemkot Kediri Gelar Pasar Murah

Kediri (cokronews.com) —– Mahalnya harga brambang selama dua bulan terakhir direspons Pemkot Kediri dengan operasi pasar. Hanya dalam waktu 70 menit, bawang merah seberat tiga kuintal ludes terjual.

Untuk diketahui, pasar murah digelar di Taman Harmoni Jl Sudanco Supriadi. Memulai operasi pasar sekitar pukul 08.00, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri menyediakan tiga kuintal brambang; 1,5 ton beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP), serta tiga kuintal gula pasir.

Dari tiga jenis bahan pangan itu, gula pasir merupakan komoditas yang paling diburu. Jika di pasaran harganya mencapai Rp 17.500 per kilogram (kg), di pasar murah kemarin dijual hanya Rp 15.500 per kg.

Selain itu, beras SPHP dijual Rp 52 ribu per lima kg. Padahal, harga di pasaran untuk beras medium masih mencapai Rp 12 ribu per kg. Adapun brambang yang di pasaran masih mencapai Rp 65 ribu, kemarin dijual Rp 40 ribu per kg. Tak ayal, tiga kuintal brambang itu ludes hanya dalam waktu sekitar 70 menit.

Adi, salah satu pembeli mengaku sengaja membeli brambang dan beras di pasar murah karena harganya jauh lebih murah.

“Tiga hari yang lalu saya beli harganya Rp 65 ribu sekilo. Karena ini tadi dijual murah, saya beli di sini,” akunya sambil membawa satu kantong beras dan satu plastik brambang.

Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri M. Ridwan menyebut gerakan pangan murah digelar secara situasional. Yakni, jika terdapat komoditas kebutuhan pokok yang cenderung tinggi harganya.

“Yang kita jajakan adalah komoditas yang hari ini fluktuatif dan cenderung tinggi di pasaran. Hingga kami merasa perlu mengadakan gerakan pangan murah agar masyarakat bisa mendapatkan kebutuhan pokok dengan cara yang lebih mudah dan harga yang lebih murah,” ujar Ridwan.

Ridwan mencontohkan, saat ini bawang merah dan gula pasir cenderung masih tinggi harganya. Bahkan, kenaikan harga bawang merah sempat mencapai 100 persen.

“Harga normalnya biasanya sekitar Rp 30 ribuan. Beberapa hari lalu sempat Rp 60 ribuan. Sekarang rata-rata di angka Rp 50 ribu per kilogram,” lanjut Ridwan.

Kenaikan harga bawang merah itu menurut Ridwan disebabkan oleh faktor produksi yang menurun. Kebutuhan bawang merah masyarakat Kota Kediri masih di-supply dari luar kota. Di antaranya Nganjuk, Brebes, dan Probolinggo. Sedangkan produksi di beberapa daerah supplier itu menurun.

“Hari-hari ini petani cenderung mengurangi produksi karena memang cuaca kurang bagus untuk pertanian bawang merah,” tandasnya sembari menyebut saat ini pedagang mulai mendatangkan bawang merah dari luar pulau.

Sementara itu, kenaikan harga bawang merah beberapa waktu ini juga diantisipasi tim pengendalian inflasi daerah (TPID). Sekretaris TPID Kota Kediri Tetuko Erwin Sukarno menambahkan, bawang merah termasuk penyumbang inflasi bulan lalu.

“Kebetulan untuk Nganjuk dan Probolinggo memang belum ada panen. Jadi pedagang mendatangkan bawang merah dari Sulawesi. Karena barangnya dari Sulawesi, komponen terbesarnya ada di transportasi. Makanya harganya naik,” tandasnya.(adv)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *