Berita  

Viralnya Situs Adan-Adan Dongkrak Kunjungan ke Situs Tondowongso

Kediri ( cokronews.com ) — Viralnya Situs Adan-Adan di media sosial dengan narasi sebagai “area candi terluas mengalahkan Borobudur” ternyata membawa dampak positif bagi destinasi sejarah lain di Kabupaten Kediri. Salah satunya Situs Tondowongso di Desa Gayam, Kecamatan Gurah, yang mulai ramai dikunjungi wisatawan dalam beberapa hari terakhir.

Juru Pelihara Situs Tondowongso, Edi Saputro, mengatakan peningkatan kunjungan mulai terasa setelah ramainya pembahasan situs purbakala di wilayah barat Kabupaten Kediri tersebut.

“Beberapa wisatawan mulai datang ke sini, imbas dari viralnya Situs Adan-Adan,” ujarnya, Sabtu (16/5/2026).

Berbeda dengan Situs Adan-Adan yang lebih mudah dijangkau, lokasi Situs Tondowongso berada di area persawahan dan cukup jauh dari jalan raya. Meski demikian, jarak kedua situs tersebut hanya sekitar empat kilometer sehingga membuat banyak wisatawan penasaran untuk melihat situs percandian lain di Kediri.

Menurut Edi, jumlah pengunjung memang belum membludak, namun kondisi tersebut sudah berbeda dibanding hari-hari biasa yang cenderung sepi.

“Biasanya sepi, ini tadi ada pengunjung dari Kediri juga,” katanya.

Saat ini kondisi Situs Tondowongso terlihat lebih tertata dibanding sebelumnya. Area situs telah dilengkapi pagar pembatas dan sebagian struktur percandian sudah diberi atap pelindung atau cungkup untuk melindungi batu bata kuno dari panas dan hujan.

“Sudah sekitar empat bulanan ada pagar dan atap,” ungkap Edi.

Di kawasan situs tampak susunan batu bata kuno membentuk struktur candi yang masih berada di bawah permukaan tanah. Sebagian area masih berupa hasil ekskavasi terbuka dengan jalur pembatas bagi pengunjung.

Edi mengaku rutin membersihkan area situs setiap hari, terutama lumut yang tumbuh pada struktur batu bata agar peninggalan sejarah tersebut tetap terjaga.

“Setiap hari dibersihkan,” ujarnya.

Saat ini terdapat tiga bagian utama di kawasan Situs Tondowongso. Pada sisi barat telah dipasangi cungkup pelindung, sementara dua bagian lainnya masih menggunakan pagar pembatas dan menunggu pembangunan tahap berikutnya.

Situs Tondowongso sendiri menjadi salah satu penemuan arkeologi penting di Jawa Timur dalam beberapa dekade terakhir. Ekskavasi terbaru dilakukan pada Agustus 2025 oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur.

Dari hasil ekskavasi ditemukan struktur batu bata dan pondasi bangunan kuno yang diperkirakan berasal dari abad ke-11 pada masa Kerajaan Kediri.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan pada tahun 2006, 2007, 2022, dan 2025 juga menemukan gapura, tiga candi pendamping, serta satu candi induk. Selain itu ditemukan pula 14 arca dan artefak penting seperti arca Siwa Catur Muka, Durga Mahisasuramardini, lingga, yoni, hingga arca Surya dan Chandra.

Artefak tersebut sebelumnya disimpan di Museum Trowulan dan pada 2024 dipulangkan ke Museum Joyoboyo di kawasan Pamenang.

Para arkeolog memperkirakan luas Situs Tondowongso mencapai lebih dari satu hektare, menjadikannya salah satu penemuan arkeologi klasik terbesar dalam 30 tahun terakhir di Indonesia.

Situs ini diperkirakan dibangun pada abad ke-11 dan mulai ditinggalkan sekitar abad ke-13 seiring runtuhnya Kerajaan Kediri, banjir besar, serta aktivitas letusan Gunung Kelud.

Kini, perlahan Situs Tondowongso mulai kembali dikenal masyarakat. Viralnya situs-situs purbakala di Kabupaten Kediri diharapkan dapat membuka kesadaran baru akan pentingnya menjaga warisan sejarah dan budaya daerah.

Kepala Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan Disparbud Kabupaten Kediri, Eko Priatno Triwarso, berharap Situs Tondowongso tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi ikon wisata sejarah baru di Kabupaten Kediri.

“Situs Tondowongso diharapkan tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga ikon wisata sejarah baru yang mampu menarik wisatawan dan memperkuat identitas Kabupaten Kediri sebagai daerah kaya akan peradaban masa lalu,” ujarnya.