Berita  

Vertilampot Sebuah Inovasi Mahasiswa KKN UB Kediri Dalam Ketahanan Pangan Keluarga

Kab. Kediri (cokronews.com) — Potensi yang dimiliki Desa Blaru, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri cukup baik dan sangat berpotensi, namun menghadapi kendala keterbatasan lahan untuk pengembangan usaha hortikultura. Lahan pertanian yang terbatas dan semakin menyempitnya area tanam menjadi tantangan bagi petani setempat untuk meningkatkan produktivitas. Kondisi ini memerlukan solusi inovatif berupa teknologi budidaya yang efisien dalam pemanfaatan ruang. Pengembangan sistem vertikultur dan tabulampot diharapkan dapat memaksimalkan pemanfaatan lahan sela, meningkatkan produksi hortikultura, serta mendukung ketahanan pangan masyarakat sekaligus berkontribusi pada pencapaian SDGs 2 (tanpa kelaparan) dan SDGs 11 (kota dan komunitas berkelanjutan) (30/07).

Menanggapi masalah tersebut, mahasiswa PSDKU Universitas Brawijaya Kediri dari KKN Kelompok 15 melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) berupa VERTILAMPOT (Pemanfaatan Lahan Sela untuk Holtikultura Berbasis Vertikultur dan Tabulampot) di Desa Blaru, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri. Program ini berperan sebagai langkah awal untuk memperkenalkan teknologi budidaya tanaman secara vertikal yang memanfaatkan lahan terbatas secara optimal. Edukasi ini dilaksanakan pada Senin 7 Juli 2025 di kediaman Bapak Subandi selaku Ketua Gapoktan Desa Blaru. Kegiatan ini diikuti oleh anggota kelompok tani setempat dan juga petugas dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Badas.

VERTILAMPOT mengusung dua teknik budidaya yang efisien dalam pemanfaatan ruang: Vertikultur adalah teknik budidaya tanaman yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat, memungkinkan penanaman berbagai jenis tanaman dalam ruang terbatas dengan memanfaatkan area ke atas. Sementara itu, Tabulampot (tanaman buah dalam pot) adalah teknik menanam tanaman buah di dalam pot atau wadah, memungkinkan masyarakat menanam pohon buah meskipun tidak memiliki lahan yang luas.

Sebagai tindak lanjut untuk perawatan tanaman, kelompok mahasiswa ini juga memperkenalkan teknologi pendukung yang ramah lingkungan. Teknologi tersebut meliputi sistem biopori untuk pengolahan air dan nutrisi tanah, sistem irigasi tetes untuk efisiensi penggunaan air, pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari air beras sebagai nutrisi tambahan tanaman, serta pestisida organik dari kulit bawang merah sebagai pengendali hama alami. Tim mahasiswa mendemonstrasikan langsung cara pembuatan dan aplikasi teknologi-teknologi tersebut kepada para peserta.

“Saya sangat tertarik dengan konsep VERTILAMPOT ini karena bisa memanfaatkan lahan sempit di pekarangan rumah. Dengan sistem vertikal seperti ini, saya bisa menanam berbagai jenis sayuran tanpa memerlukan lahan yang luas. Apalagi ditambah dengan teknologi POC dari air beras, ini sangat praktis dan murah”, ujar Bapak Tohari, salah satu anggota kelompok tani peserta kegiatan.

Respon positif juga ditunjukkan oleh Bapak Subandi selaku Ketua Gapoktan Desa Blaru. “Program VERTILAMPOT ini sangat sesuai dengan kondisi di desa kami, dengan teknologi ini, petani bisa tetap produktif meskipun lahannya sempit. Saya berharap program ini bisa berkelanjutan dan menjadi percontohan untuk desa-desa lain di Kecamatan Badas”, jelasnya.

Melalui program VERTILAMPOT, lahan sela yang selama ini tidak termanfaatkan optimal kini bisa digunakan untuk budidaya hortikultura dengan sistem vertikal dan tabulampot. Inovasi ini tidak hanya membantu petani memaksimalkan produksi di lahan terbatas tetapi juga menjadi solusi berkelanjutan untuk meningkatkan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Sebagai hasil dari kegiatan ini, terdapat 3 orang petani yang menyatakan berminat untuk menjadi percontohan penerapan teknologi VERTILAMPOT di lahan mereka masing-masing. (Tania)