CokroNews Surabaya – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 13 Surabaya tidak hanya memberikan manfaat nutrisi bagi siswa, tetapi juga membawa dampak berkelanjutan bagi pengelolaan lingkungan sekolah. Sisa makanan yang sebelumnya dianggap limbah kini dimanfaatkan menjadi pupuk organik cair dan padat.
Inovasi tersebut digagas oleh tim Pangeran Putri Lingkungan Hidup (Pangput) bersama Tim MBG sekolah. Melalui pengolahan sederhana, sisa makanan dapat diubah menjadi kompos berkualitas dengan proses yang jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Guru Informatika sekaligus Pembimbing Pangput SMPN 13 Surabaya, Windy mengungkapkan, keberadaan sisa MBG membuat proses pengomposan di sekolah menjadi lebih efektif.
“Semenjak ada MBG, prosesnya jadi jauh lebih cepat. Kalau dulu cuma mengandalkan daun kering, sekarang ada campuran kulit buah dan sisa organik lainnya. Karena sifatnya yang basah dan kaya nutrisi, sisa MBG ini menjadi katalis alami yang mempercepat pembusukan di lubang biopori dan tong aerob,” ujar Windy.
Sebelumnya, proses pembuatan kompos di sekolah tersebut hanya mengandalkan serasah atau daun kering yang membutuhkan waktu cukup lama untuk terurai.
Saat ini, SMPN 13 Surabaya memiliki 32 lubang biopori yang tersebar di berbagai sudut area sekolah. Lubang tersebut dimanfaatkan untuk menampung sisa makanan MBG, terutama kulit buah seperti salak dan pisang.
Satu paket sisa MBG biasanya mampu mengisi satu lubang biopori hingga penuh. Setelah material menyusut dan mulai menjadi pupuk, bahan tersebut kemudian dipindahkan ke tong aerob untuk proses pematangan akhir.
“Kami punya tiga tong aerob yang sangat fungsional. Hanya butuh waktu satu hingga dua minggu saja, kompos sudah jadi dan siap digunakan untuk menyuburkan tanaman sekolah. Ini sangat efektif,” tambahnya.
Keberhasilan program ini juga didukung oleh pencatatan yang dilakukan secara detail setiap hari oleh tim Pangput. Pendataan tersebut dilakukan sebagai bagian dari persiapan seleksi Pangeran Putri Lingkungan Hidup.
“Catatan terakhir kami, total pupuk yang dihasilkan bisa mencapai lebih dari 1 ton. Kami menimbangnya secara detail karena untuk keperluan kompetisi Pangput harus menyajikan data yang real dan spesifik,” tegas Windy.
Meski banyak sisa kulit buah dan sayur seperti selada atau timun yang masuk ke pengolahan sampah, Windy memastikan bahwa standar kecukupan gizi siswa tetap terpenuhi. Sisa yang diolah sebagian besar merupakan bagian buah yang memang tidak dikonsumsi, seperti kulit buah atau sayuran yang ukurannya terlalu besar bagi siswa.
Inovasi pemanfaatan sisa MBG ini diharapkan menjadi nilai tambah bagi SMPN 13 Surabaya yang tengah bersiap menuju penghargaan Adiwiyata Nasional. Program tersebut juga menunjukkan bahwa pengelolaan limbah di lingkungan sekolah dapat memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.













