Berita  

Pemerintah Kabupaten Gresik Optimalkan Sinergi Program Guna Akselerasi Target Penurunan Stunting 14,2 Persen

Gresik (cokronews.com) —- Pemerintah Kabupaten Gresik terus memperkuat sinergi lintas sektor demi menggenjot penurunan angka stunting di wilayahnya. Langkah ini diambil guna mengejar target prevalensi stunting sebesar 14,2 persen pada tahun 2029 mendatang.

Komitmen tersebut dibahas matang dalam agenda Sinkronisasi Program dan Pendampingan Web Pelaporan Aksi Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (Web Bangda) Kabupaten Gresik Tahun 2026 yang digelar di Ruang Mandala Bhakti Praja, Kantor Bupati Gresik, Rabu (17/6/2026).

Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, yang membuka langsung kegiatan ini menegaskan bahwa masalah stunting adalah agenda prioritas nasional. Penanganannya tidak bisa dibebankan kepada satu instansi saja, melainkan butuh keroyokan dari semua pihak.

“Ini bukan pekerjaan satu OPD, bukan pekerjaan sektor kesehatan saja. Penurunan stunting adalah kerja bersama yang membutuhkan komitmen seluruh pihak,” ujar Wabup Alif.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Kabupaten Gresik tercatat sebesar 15,2 persen. Angka ini menjadi pijakan Pemkab untuk melakukan intervensi yang lebih fokus dan tepat sasaran.

Wabup Alif menjelaskan, fokus penanganan saat ini diarahkan pada pemenuhan gizi kelompok 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Langkah konkretnya meliputi penanggulangan kekurangan energi kronik (KEK) pada ibu hamil, pemberian makanan tambahan bagi balita yang mengalami gangguan pertumbuhan, suplementasi gizi mikro, hingga pemenuhan ASI eksklusif.

Lebih lanjut, ia mengingatkan agar jajarannya tidak hanya sibuk memenuhi laporan administrasi atau berorientasi pada proses. Menurutnya, pemanfaatan integrasi data lewat sistem pelaporan berbasis Web Bangda harus benar-benar menghasilkan dampak nyata di lapangan.

“Kita tidak boleh hanya berfokus pada output kegiatan. Hal yang paling penting adalah dampaknya. Apakah angka stunting benar-benar turun, apakah anak-anak yang menjadi sasaran mengalami perbaikan status gizi. Kalau tidak ada dampaknya, maka program harus dievaluasi,” tegasnya.

Wabup Alif juga menambahkan bahwa stunting tidak melulu soal faktor ekonomi atau kemiskinan. Pola asuh yang keliru serta minimnya pemahaman orang tua tentang pemenuhan gizi anak sering kali menjadi pemicu utama. Oleh karena itu, peran aktif dari kader kesehatan, Tim Pendamping Keluarga (TPK), hingga pemerintah desa sangat krusial untuk mengedukasi masyarakat.

Sementara itu, Kepala Bappeda Kabupaten Gresik, Edi Hadisiswoyo, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menyelaraskan program kerja dari tingkat kabupaten, kecamatan, puskesmas, hingga desa.

Dengan memanfaatkan platform Web Bangda, seluruh intervensi program dan penggunaan anggaran kini dapat dipantau secara lebih terukur, akuntabel, dan berbasis data ilmiah dari lapangan.

Agenda strategis ini turut menghadirkan narasumber berkompeten, di antaranya Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Jatim Kukuh Tri Sandi, serta Afidah Andani dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

Leave a Reply