Kediri (cokronews.com) —- Berdasarkan data pergerakan pasar finansial global dari Refinitiv, harga komoditas logam mulia emas dan perak ambles berjamaah hingga menyentuh level terendah dalam lebih dari dua bulan terakhir. Penurunan tajam ini dipicu oleh aksi jual massal di pasar keuangan dunia serta meningkatnya kecemasan investor bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve) masih berpeluang menaikkan suku bunga acuan pada akhir tahun ini.
Saat ini, fokus pelaku pasar tertuju pada rilis data inflasi penting AS, yaitu Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) yang menjadi indikator penentu kebijakan moneter. Berdasarkan CME FedWatch Tool, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mendatang kini telah mencapai angka 68 persen. Kenaikan suku bunga umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena sifatnya yang tidak menghasilkan imbal hasil (yield).
Pergerakan Harga Emas dan Perak Dunia
Tekanan sentimen risk-off di bursa saham global seperti pelemahan indeks S&P 500 dan Nasdaq turut menyeret turun harga komoditas secara signifikan. Berikut adalah rincian koreksi harga emas dan perak pada Juni 2026:
| Komoditas | Penutupan Selasa (9/6) | Kondisi Rabu (10/6) | Catatan Pasar |
| Emas Spot | US$ 4.262,52 / troy ons | US$ 4.255,28 / troy ons | Melemah tiga hari beruntun; level terendah sejak Desember 2025. |
| Perak | US$ 65,36 / troy ons | US$ 65,19 / troy ons | Anjlok 4,12% pada hari Selasa dan melanjutkan tren koreksi ringan. |
Di samping faktor kebijakan The Fed, penurunan harga minyak mentah dunia pasca-redanya ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel ikut memengaruhi laju inflasi global yang berdampak pada daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai. Sementara itu dari sektor fisik, lonjakan tarif impor emas yang diterapkan pemerintah India dilaporkan mulai memicu maraknya pasar gelap, di mana volume penyelundupan emas ke negara tersebut diproyeksikan mampu menembus lebih dari 100 ton sepanjang tahun ini akibat tingginya selisih keuntungan pedagang ilegal.







