Berita  

Mahasiswa Universitas Brawijaya Kediri Wujudkan SDGs 12 Melalui Horizontal Garden Drip Irrigation Dari Botol Bekas Bersama KWT Bunda Cinta Ploso Lor

Kab. Kediri (cokronews.com) — Upaya untuk mewujudkan konsumsi dan produksi pangan yang berkelanjutan kini mulai menyentuh rumah tangga pedesaan. Salah satu contohnya Program yang dilaksanakan pada Rabu 16 Juli 2025, di Desa Ploso Lor, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, melalui inovasi Horizontal Garden Drip Irrigation yang digagas oleh kelompok 03 mahasiswa KKN Universitas Brawijaya Kediri. Program ini berlangsung di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapang (DPL) Ayu Winna Ramadhani, S.Pi., M.Si. Program ini menjadi bentuk kontribusi nyata dalam mendukung ketahanan pangan skala rumah tangga sekaligus menjaga kelestarian lingkungan sekitar.

Program ini hadir untuk menjawab dua permasalahan utama yang dihadapi masyarakat Desa Ploso Lor, yakni belum optimalnya pemanfaatan pekarangan rumah dan tingginya limbah plastik rumah tangga yang belum tertangani dengan baik. Melalui pendekatan ini, mahasiswa Universitas Brawijaya Kediri turut berkontribusi langsung dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-12, yaitu Responsible Consumption and Production.
Melalui pemanfaatan botol plastik bekas sebagai media tanam dan sistem irigasi tetes sederhana. Warga bisa menanam sayuran, rempah-rempah, hingga tanaman hias di lahan terbatas dengan cara yang hemat air dan ramah lingkungan. Sistem irigasi ini mampu mengatur aliran air secara perlahan, sehingga sangat membantu saat musim kemarau tiba. Tidak hanya itu, warga juga diajak membuat pestisida organik dari limbah kulit bawang sebagai bagian dari pelatihan.

Botol bekas yang semula tak terpakai, kini disulap menjadi media tanam yang fungsional. Kelompok Wanita Tani Bunda Cinta menjadi mitra utama mahasiswa. Mereka dilibatkan langsung dalam pelatihan, mulai dari pembuatan irigasi tetes hingga pengolahan pestisida organik. Dari proses ini, warga tak hanya mendapat ilmu baru, tapi juga inspirasi untuk terus memanfaatkan lingkungan sekitar secara lebih bijak.

Menurut Ibu Nur, salah satu anggota KWT, mahasiswa menyampaikan materi dengan cara yang santai dan mudah dipahami. “Ide pengairan lewat infus, jujur baru tahu, asyik juga, jadi tidak perlu menyiram setiap hari,” ungkapnya sambil tersenyum. Hal serupa juga dirasakan oleh Ibu Sri Harti yang mengatakan, “Alhamdulillah, dapat ilmu baru dari apa yang disampaikan adik-adik KKN UB.” Beliau menambahkan, “Kita juga bisa memanfaatkan barang bekas sebagai media tanam. Terima kasih atas ilmu yang sudah diberikan, semoga bermanfaat bagi kita semua.”

Program ini membawa banyak dampak positif bagi masyarakat. Selain membantu mengurangi sampah rumah tangga, kegiatan ini juga meningkatkan keterampilan, kreativitas, dan kepedulian warga terhadap lingkungan. Kesadaran pun mulai tumbuh bahwa perubahan besar bisa berawal dari tindakan kecil di rumah sendiri. Program ini membuktikan bahwa solusi sederhana, jika dijalankan bersama dan melibatkan masyarakat, dapat menciptakan perubahan yang berarti. (Tania)