Berita  

Universitas Bahaudin Mudhary (Uniba) Madura Gelar FGD Bahas Representasi Identitas Budaya Lokal dalam Film

Sumenep (cokronews.com) —- Tim Peneliti Hibah Penelitian Dosen Pemula (PDP) Universitas Bahauddin Mudhary (Uniba) Madura sukses menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Representasi Identitas Budaya Madura dalam Film dan Media Populer: Analisis Semiotika dan Konstruksi Makna Visual”. Kegiatan ilmiah ini berlangsung di ruang Ariskul Fikri kampus setempat, Sabtu (20/06/2026).

Riset ini diketuai oleh Bondan Dewabrata dengan anggota Ridy Sulhana dan Supriadi, serta melibatkan aktif mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Uniba dan para pegiat dari Komunitas Film Ginok.

Agenda diawali dengan proses kurasi terhadap 15 film pendek karya kolaborasi mahasiswa dan komunitas film. Proses penilaian dilakukan oleh tiga dewan juri ahli, yaitu Wakil Rektor II Uniba sekaligus Dosen Madura Culture R. Khaeru Ahmadi, Dosen DKV Universitas Wiraraja (Unija) Deny Feri Suharyanto, serta Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Sumenep Mohammad Farhan Muzammily. Dari belasan film yang mengeksplorasi tradisi Madura tersebut, dikerucutkan menjadi 10 terbaik hingga akhirnya ditetapkan 7 film sebagai sampel utama analisis penelitian.

Dekan Fikom Uniba sekaligus penanggung jawab kegiatan, Siti Sa’adah, menyampaikan bahwa FGD ini membuahkan hasil dan rekomendasi strategis. Hasil diskusi membuktikan bahwa karya sinematik mahasiswa memiliki potensi luar biasa dalam merepresentasikan identitas lokal melalui simbol budaya, nilai sosial, dan kearifan lokal. Selain itu, film terbukti menjadi instrumen digital yang sangat efektif untuk dokumentasi sejarah dan pelestarian budaya.

“Hasil diskusi ini akan digunakan sebagai bahan analisis penelitian dan pengembangan film budaya di masa mendatang. Kami berharap riset ini mampu memicu kolaborasi berkelanjutan antara akademisi, komunitas film, dan pelaku budaya dalam menjaga identitas Madura lewat media kreatif,” ujar Siti Sa’adah.

Sementara itu, perwakilan dewan juri R. Khaeru Ahmadi memberikan catatan kritis terkait pentingnya menjaga akurasi representasi dalam sebuah karya visual. Ia mengingatkan para sineas muda agar menghindari penyederhanaan atau penghilangan makna filosofis asli kebudayaan Madura. Penggunaan simbol, bahasa, serta visualisasi tradisi harus disajikan secara tepat agar mampu menghasilkan karya film kultural yang bernilai edukatif tinggi namun tetap menarik bagi generasi muda.

Leave a Reply