Kisah Perjuangan Atlet Kriket Kediri Jual Mawar Demi Biaya Kuliah dan Rawat Ibu Sakit Tumor

KEDIRI – Wangi semerbak mawar menyambut langkah siang itu di sebuah rumah sederhana di Desa Gadungan Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri Jawa Timur.

Di halaman yang dipenuhi pot bunga warna-warni suasana terasa hangat meski matahari cukup terik.

Di tengah deretan mawar yang tertata rapi, dua sosok perempuan dengan senyum tulus menyapa dan menyambut setiap orang yang datang. 

Mereka adalah Tsany Zahratussita dan ibunya, Maftukhatul Khoiriyah bersama-sama merawat harapan di antara kelopak bunga yang mereka budidayakan.

“Silahkan masuk, maaf agak kotor,” kata Tsany sambil membukakan pintu, Kamis (23/4/2026). 

Setelah mempersilahkan duduk, siswi yang akrab disapa Tsany ini mulai menceritakan kisah hidupnya yang penuh semangat. 

Tsany mengaku harus membagi fokus antara mengejar pendidikan, meniti karier sebagai atlet kriket, serta membantu merawat ibunya yang tengah berjuang melawan penyakit tumor otak.

Sehari-hari, Tsany membantu ibunya yang kini berusia 48 untuk berjualan tanaman bunga mawar di rumah. Usaha tersebut telah dijalankan selama kurang lebih dua tahun terakhir.

Tanaman bunga mawar yang dijual berasal dari budidaya sendiri, termasuk jenis mawar Kalimantan tanpa duri, Malang dan lokal dengan harga bervariasi mulai Rp 15.000 hingga Rp 40.000 per tanaman.

“Saya membantu ibu jualan bunga sekaligus merawat tanaman. Ini untuk tambahan biaya sehari-hari,” kata perempuan 18 tahun ini. 

Kondisi sang ibu yang tengah berjuang untuk melawan tumor membuat Tsany harus mengambil peran lebih besar di rumah, mulai dari merawat tanaman, memasak, hingga mengurus kebutuhan keluarga.

Apalagi, sejak ayahnya meninggal dunia, beban ekonomi keluarga sepenuhnya berada di pundak sang ibu. Tak berhenti di situ, sang kakak belum lama ini juga mengalami kecelakaan lalu lintas ketika naik sepeda motor. Akibatnya, rahang kakak Tsany harus mendapat operasi dari tenaga medis.  

Di tengah kondisi tersebut, Tsany tetap berprestasi. Ia merupakan atlet kriket yang mulai aktif sejak awal tahun 2025.

Meski tergolong baru, ia berhasil menorehkan sejumlah prestasi, mulai dari medali perunggu di ajang Porprov Jawa Timur 2025 hingga meraih medali perak di kejuaraan nasional di Bali.

“Alhamdulillah di kejuaraan nasional saya mendapat medali perak, itu jadi momen paling berkesan,” katanya.

Prestasi tersebut mengantarkan Tsany mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan ke Universitas Negeri Malang.

Dia diterima di program studi S1 Ilmu Komunikasi melalui jalur prestasi pada tahun ajaran 2026/2027 ini.  Namun, di balik kebanggaan tersebut, terselip kegelisahan terkait biaya kuliah yang harus ditanggung.

Besaran UKT (uang kuliah tunggal) sebesar Rp 4.750.000 per semester menjadi tantangan tersendiri bagi keluarganya.

“Waktu tahu UKT cukup tinggi, saya sempat bingung dan sedih, terutama untuk semester berikutnya,” jelasnya.

Saat ini, pihak kampus telah memberikan beasiswa keringanan berupa pembebasan biaya selama dua semester awal. Namun untuk semester selanjutnya, Tsany harus mencari cara agar tetap bisa melanjutkan kuliahnya.

Kondisi ini membuatnya harus tetap bekerja sambil kuliah, termasuk melanjutkan usaha keluarga di bidang budidaya bunga mawar.

Ia bahkan menyempatkan waktu untuk meronce bunga atau merangkai bunga sebagai tambahan penghasilan.

“Saya ingin tetap kuliah, tapi juga harus bantu keluarga. Jadi saya berusaha cari penghasilan sendiri,” tuturnya.

Tsany berharap ada perhatian dari pemerintah maupun pihak terkait untuk memberikan bantuan beasiswa agar ia bisa fokus menempuh pendidikan.

Leave a Reply