CokroNews KEDIRI – Upaya mendorong sumber pertumbuhan baru menjadi sorotan di tengah melambatnya laju ekonomi Kota Kediri pada awal tahun 2026.
Deputi Kepala Perwakilan BI Kediri, Dea Andarina, mengungkapkan bahwa secara spasial Kota Kediri mencatatkan pertumbuhan ekonomi paling rendah dibandingkan daerah lain di wilayah kerja BI Kediri.
Hal ini berbanding terbalik dengan Kabupaten Pacitan yang justru mencatatkan pertumbuhan tertinggi. Menurut Dea, perlambatan tersebut tidak terlepas dari struktur ekonomi Kota Kediri yang masih bertumpu pada sektor industri pengolahan.
Ketergantungan ini dinilai membuat laju ekonomi kurang fleksibel dalam merespons dinamika global maupun domestik. Sebaliknya, Pacitan dinilai berhasil mendorong pertumbuhan melalui diversifikasi sektor ekonomi.
Selain perikanan, daerah tersebut mengembangkan sektor pariwisata, industri, hingga akomodasi yang mampu menopang pertumbuhan lebih stabil.
Ia menambahkan, berbagai event seperti Kediri Half Marathon diharapkan mampu menarik kunjungan wisatawan.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi di 13 kabupaten/kota wilayah kerja BI Kediri tercatat sebesar 4,31 persen secara tahunan (year on year).
Angka tersebut sedikit melambat dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 4,39 persen, serta masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dan nasional yang berada di kisaran 5 persen.
Meski demikian, Bank Indonesia menilai ketahanan ekonomi domestik masih relatif kuat. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama aktivitas ekonomi di kawasan Mataraman.













