CokroNews KEDIRI – Penutupan akses jalan menuju ke TPA Klotok oleh sebagian warga Kelurahan Pojok, Mojoroto, membawa dampak luas.
Pengangkutan sampah yang terhambat membuat sampah tertahan di depo atau tempat pembuangan sementara (TPS). Bahkan, ada pula sampah yang menumpuk di tepi jalan.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, sampah-sampah yang menumpuk di tepi jalan itu dapat ditemui di Jl Letjend Suprapto, Jl PK Bangsa, dan Jl Brigjen Pol Imam Bahri. Seharusnya, sampah dari rumah-rumah maupun tempat usaha itu sudah diangkut di pagi hari. Namun, hingga siang masih teronggok di tepi jalan.
Selebihnya, penumpukan sampah juga terlihat di sejumlah TPS. Seperti di TPS Panglima Polim dan TPS Pasar Bandar. Bahkan, tumpukan gerobak muatan penuh sampah di TPS Pasar Bandar juga menyebabkan arus kendaraan di Jl Miladiyyah sering tersendat.
Selanjutnya, di TPS Panglima Polim, satu unit truk muatan penuh sampah masih terparkir di sana. Jumlah itu belum termasuk gerobak-gerobak sampah muatan penuh yang masih tertahan.
Karena sudah overload, petugas TPS pun memasang pengumuman ‘Tutup Total’ di sana.
“Mulai jam 6 pagi kemarin (5/4) sudah nggak bisa dikirim ke TPA. Terus mulai pagi ini sudah ditutup total (TPS Panglima Polim, Red),” ujar Yuliono, petugas TPS Panglima Polim, ditemui Senin pagi (6/4).
Begitu pula sejumlah petugas pengambil sampah lingkungan yang berkumpul di sana. Mereka tak bisa mengambil sampah, imbas depo yang ditutup.
Di saat bersamaan, petugas tetap diminta berjaga di lokasi. Tujuannya untuk menghalau warga yang membuang sampah dalam skala besar. Serta mencegah sampah meluber hingga ke jalan.
Di saat bersamaan, petugas tetap diminta berjaga di lokasi. Tujuannya untuk menghalau warga yang membuang sampah dalam skala besar. Serta mencegah sampah meluber hingga ke jalan.
“Harusnya sehari dua kali sampah dibawa ke TPA. Seperti truk itu sudah dari kemarin (5/4), tinggal berangkat saja sebenarnya,” ungkap Yuli yang kemarin berjaga di lokasi.
Setiap hari, rata-rata ada 20 gerobak yang membantu layanan pengangkutan sampah di TPS Panglima Polim. Seluruhnya dipastikan tertahan operasionalnya imbas TPS yang ditutup.
Selain itu, kendaraan pengangkut sampah di tepi jalan juga masih tertahan di sana. Imbasnya, sampah di tepi jalan juga terancam menumpuk hingga hari ini.
“Ini dijaga terus supaya kalau ada yang buangnya banyak, saya minta kembali lagi. Karena ini sudah overload. Kadang ada warga yang buang sampah bawa pick up atau becak,” tandasnya.
Yuliono menegaskan, penutupan akses jalan menuju TPA Klotok sangat berdampak pada layanan sampah di TPS-nya. Yang biasanya sampah dibuang ke TPA setiap dua kali sehari, sekarang masih tertahan.
Selain itu, masyarakat juga diliputi rasa khawatir dengan kondisi itu. Salah satunya Sania, warga Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kota. Menurutnya, mulai kemarin hanya beberapa sampah yang terlihat menumpuk saja yang diangkut. Pengambilan sampah di rumah-rumah warga di Ngadirejo dijadwalkan setiap Rabu dan Sabtu.
“Hari Sabtu itu dibilangin kalau ada demo, jadi harusnya nggak bisa ambil sampah. Tapi sepertinya yang diambil akhirnya yang kelihatan menumpuk saja,” ungkap Sania.
Hal serupa diungkapkan Rizal, warga Kelurahan Tosaren. Dia mengaku belum merasakan langsung dampak lumpuhnya layanan sampah kemarin. Di rumahnya, sampah diambil setiap 2 – 3 kali seminggu. Dan terakhir sudah diangkut pada Sabtu lalu (4/4).
“Hari ini (6/4) belum kelihatan ada penumpukan. Tapi baru dikasih pengumuman kalau hari ini tidak ada pengambilan sampah karena tempat pembuangan akhir sedang ditutup karena ada demo,” beber Rizal.
Terpisah, Imam Sopi’i, ketua RW 03 Kelurahan Pojok selaku perwakilan warga mengatakan, pemblokiran jalan menuju TPA Klotok itu bentuk protes warga atas dampak TPA. Khususnya bagi warga yang tinggal di ring 1 atau yang berada di radius paling dekat. Ada sekitar 1.400 kepala keluarga (KK) yang menuntut kejelasan pemberian kompensasi senilai Rp 2 juta per KK.
“Kami menuntut kompesasi Rp 2 juta segera dicairkan. Kalau tidak dicairkan, warga tetap memblokade jalan menuju TPA Klotok,” ujarnya, menyebut blokade sudah berjalan sejak 2 April.
Pemblokiran itu dilakukan di pintu gerbang Bong Cino. Warga menghalau seluruh truk maupun kendaraan pengangkut sampah lainnya menuju TPA. Selain itu, warga juga mendirikan tenda besar atau kanopi, tepat di gerbang Bong Cino. Warga pun nampak terus berkumpul di sana secara bergantian.
Sementara itu, hingga kemarin belum ada pernyataan terkait tindak lanjut penanganan sampah di Kota Kediri. Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri Indun Munawaroh hanya menyampaikan penutupan jalan di TPA memang berimbas pada layanan persampahan yang terganggu. “Hari ini masih kami rapatkan,” tutur Indun.













