CokroNews LUMAJANG – Upacara Korpri di Halaman Kantor Bupati Lumajang, Jumat (17/4/2026), menjadi lebih dari sekadar agenda rutin.
Di balik prosesi pelepasan 35 ASN yang akan memasuki masa purna tugas per 1 Mei 2026, tersirat pesan kuat tentang makna pengabdian yang utuh, bukan hanya panjang, tetapi juga bersih dan bermartabat.
Sekretaris Daerah Kabupaten Lumajang, Agus Triyono, dalam amanatnya menegaskan bahwa tidak semua aparatur mampu menuntaskan perjalanan pengabdiannya hingga titik akhir dengan rekam jejak yang baik dan kondisi kesehatan yang prima.
Karena itu, ia menyebut capaian tersebut sebagai sesuatu yang layak dibanggakan. Pernyataan tersebut menjadi penekanan bahwa integritas dan konsistensi adalah fondasi utama dalam perjalanan seorang ASN.
Bukan hanya tentang berapa lama masa kerja dijalani, tetapi bagaimana nilai-nilai kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab dijaga hingga akhir masa tugas.
Dari 35 ASN yang dilepas, sebagian besar telah mengabdi lebih dari dua hingga tiga dekade. Mereka tidak hanya melewati dinamika birokrasi, tetapi juga menjaga komitmen pelayanan publik di tengah berbagai tantangan zaman.
Di titik inilah, purna tugas bukan sekadar akhir administratif, melainkan penanda keberhasilan menjaga marwah pengabdian.
Sekda menilai, capaian tersebut harus menjadi refleksi bagi ASN yang masih aktif. Bahwa perjalanan karier tidak semata diukur dari jabatan atau lama bekerja, tetapi dari kualitas integritas yang mampu dipertahankan hingga akhir.
Menurutnya, menjaga catatan bersih hingga masa pensiun bukan perkara mudah. Dibutuhkan keteguhan sikap, profesionalitas, serta kemampuan menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi sepanjang waktu.
Momentum pelepasan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap ASN pada akhirnya akan menghadapi fase yang sama. Namun tidak semua akan tiba dengan kondisi yang sama.
Ada yang menyelesaikan dengan kebanggaan, ada pula yang tertinggal oleh catatan yang kurang baik. Karena itu, Agus Triyono mengajak seluruh ASN untuk menjadikan para purna tugas sebagai cermin perjalanan.
Bahwa pengabdian sejati adalah tentang menjaga kepercayaan, bukan sekadar menyelesaikan kewajiban. Lebih jauh, ia menegaskan bahwa purna tugas bukan akhir kontribusi. Justru, pengalaman panjang yang dimiliki para ASN menjadi modal sosial yang berharga di tengah masyarakat.
Dengan rekam jejak yang bersih, mereka memiliki legitimasi moral untuk terus menjadi teladan. Dalam suasana haru, penyerahan piagam penghargaan menjadi simbol bahwa negara hadir untuk menghargai pengabdian yang dijalani dengan penuh tanggung jawab.
Bukan hanya sebagai bentuk formalitas, tetapi sebagai pengakuan atas integritas yang terjaga hingga akhir.
Sekda juga menyampaikan bahwa menjaga hubungan baik dengan para purna tugas merupakan bagian dari membangun ekosistem birokrasi yang sehat dan berkelanjutan.
Silaturahmi, menurutnya, adalah jembatan nilai yang tidak boleh terputus. Menutup arahannya, ia berharap para ASN yang memasuki masa purna tugas dapat menikmati fase baru kehidupan dengan rasa syukur dan kebanggaan.
Sebab, tidak semua orang mampu berdiri di titik itu dengan kepala tegak dan catatan yang bersih.
Di Lumajang, pelepasan ASN kali ini bukan hanya seremoni perpisahan. Ia menjadi penegasan bahwa integritas adalah warisan paling berharga dalam setiap pengabdian, dan mereka yang mampu menjaganya hingga akhir, layak dikenang sebagai teladan sepanjang masa.













