Awal Musim Kemarau di Ponorogo Diprediksi Akhir April 2026, Perlu Kesiapsiagaan Menghadapi Dampak Kekeringan

CokroNews PONOROGO – Peralihan musim hujan ke musim kemarau di Ponorogo diprediksi terjadi pada Dasarian III April 2026. Dalam satu bulan terbagi tiga dasarian.

Menurut dia, sesuai rilis Buletin Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur Nomor 326 Tahun 2026 perihal Prediksi musim kemarau di wilayah Jawa Timur, hujan ringan kurang dari 50 mm dalam satu dasarian masih dimungkinkan terjadi.

Curah hujan di Ponorogo diperkirakan mulai menurun hingga maksimal 50 mm per dasarian pada Dasarian III bulan April, lalu berlanjut pada Dasarian I dan Dasarian II bulan Mei.

Masih kata Masun, sepanjang musim kemarau 2026 nanti, curah hujan di Ponorogo diperkirakan hanya berada di kisaran 201 hingga 500 milimeter.

Angka ini lebih rendah dibanding musim kemarau 2025 yang masih berada di kisaran 400 milimeter. Dengan kondisi tersebut, musim kemarau tahun ini diperkirakan akan lebih kering dan cenderung mendekati pola musim kemarau pada 2024 lalu.

Lebih lanjut, Masun menggarisbawahi perbedaan antara istilah cuaca dan iklim. Cuaca merupakan kondisi atmosfer yang bersifat harian dan dapat berubah sewaktu-waktu. Sedangkan iklim adalah pola cuaca dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Karena itu, prediksi kemarau panjang yang dikeluarkan BMKG merupakan ramalan iklim, bukan ramalan cuaca harian. Dalam praktiknya, kondisi cuaca di lapangan masih dimungkinkan berubah akibat adanya anomali maupun faktor eksternal lainnya.

Masun menyebut ada sejumlah faktor yang memengaruhi perubahan cuaca. Di antaranya, suhu permukaan laut, pemanasan global, emisi karbon, perubahan tata guna lahan, serta aktivitas manusia lainnya yang berdampak terhadap kondisi atmosfer.

Berkaca dari pengalaman beberapa tahun terakhir, prediksi curah hujan dinilai cukup relevan dengan kondisi di lapangan. Pada 2025 misalnya, ketika curah hujan selama musim kemarau masih relatif tinggi, dampak kekeringan di Ponorogo juga jauh lebih ringan.

Sebaliknya, pada 2024 saat curah hujan menurun drastis, dampak kekeringan di sejumlah wilayah cukup terasa.

Karena itu, di tahun 2026, BPBD Ponorogo memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan. “Di Kecamatan Slahung, titik rawan antara lain berada di Desa Duri, Wates, Tugurejo, Senepo, Caluk, dan Slahung. Dari beberapa desa tersebut, Duri dan Wates selama ini termasuk yang paling awal mengajukan permintaan distribusi air bersih,” ujarnya

Bersamaan itu, wilayah rawan kekeringan juga tersebar di Kecamatan Sawoo seperti Desa Pangkal, Payungan, Sriti, dan Tumpuk.

Kemudian di Kecamatan Sampung terdapat Desa Gelangkulon, di Kecamatan Jambon ada Desa Sidoharjo, di Kecamatan Pulung juga terdapat Desa Sidoharjo. Kekeringan juga kerap mengancam Kecamatan Sooko meliputi Suru, Klepu, dan Ngadirojo.

Masun menjelaskan, kekeringan umumnya berkembang dalam beberapa tahapan. Tahap awal adalah kekeringan meteorologis, yakni ketika curah hujan mulai turun hingga 50 mm per Dasarian. Tahap berikutnya adalah kekeringan hidrologis, yaitu ketika sumber-sumber air permukaan mulai menyusut atau mengering.

Pada tahap kekeringan hidrologis ini dampaknya mulai dirasakan mengganggu aktivitas keseharian masyarakat akibat suplai air bersih mulai berkurang. Selanjutnya adalah kekeringan agronomis, saat ketersediaan air sudah tidak lagi mencukupi kebutuhan tanaman

Karena itu, masyarakat diimbau untuk mulai meningkatkan kewaspadaan, terutama dengan menghemat penggunaan air dan menjaga kelestarian lingkungan. Kata Masun, upaya menjaga vegetasi dan menanam tanaman yang mampu menyimpan cadangan air juga menjadi bagian penting dalam menghadapi musim kemarau.

Leave a Reply