Bandara Dhoho Kediri Berpotensi Naik Kelas, Berpeluang Menjadi Terminal Alternatif Skala Internasional

CokroNews KEDIRI – Bandara Dhoho Kediri dinilai memiliki peluang besar untuk naik kelas. Dalam hal ini menjadi bagian dari jaringan penerbangan internasional.

Momentum itu muncul di tengah ketidakpastian penerbangan global. Tak lain akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Pasalnya, sejumlah bandara utama dunia di kawasan Teluk kerap terdampak penutupan mendadak. Kondisi ini membuka peluang bagi bandara alternatif. Termasuk Bandara Dhoho.

Dimas menilai, situasi global saat ini bisa dimanfaatkan sebagai pintu masuk mengenalkan Bandara Dhoho ke maskapai internasional.

Menurutnya, bandara-bandara besar yang menjadi simpul utama penerbangan dunia sangat rentan terdampak krisis.

Seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi. Saat penutupan terjadi, penerbangan yang sudah mengudara biasanya akan mencari bandara alternatif untuk mendarat.

Dalam kondisi darurat, maskapai biasanya memiliki skema pengalihan pendaratan ke wilayah yang lebih aman. Selama ini, opsi yang sering digunakan berada di kawasan India atau Oman.

Namun, dengan meningkatnya intensitas penerbangan dari Australia dan Selandia Baru ke Timur Tengah, kebutuhan bandara alternatif juga semakin besar.

Dalam sepekan saja, terdapat lebih dari seratus penerbangan langsung dari kawasan tersebut menuju hub utama di Timur Tengah.

Saat krisis terjadi, potensi pesawat stranded pun meningkat. “Sementara tidak semua bandara mampu menampung,” ucapnya.

Menurut Koordinator International Office UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung itu, Indonesia sebenarnya sudah sempat menjadi lokasi alternatif.

Beberapa pesawat bahkan tercatat parkir di Bandara Ngurah Rai, Bali. Pemerintah juga sempat mewacanakan pemanfaatan bandara lain. Seperti Kertajati dan Yogyakarta International Airport.

Namun, peluang itu dinilai belum dimaksimalkan. Bandara Dhoho, dengan statusnya sebagai bandara yang dikelola swasta dinilai memiliki fleksibilitas lebih.  Yaitu untuk bergerak cepat menjalin komunikasi dengan maskapai global.

Selain faktor fleksibilitas, posisi geografis Kediri juga dianggap cukup strategis. Letaknya tidak terlalu jauh dari jalur penerbangan Australia–Asia Tenggara.

Sehingga berpotensi menjadi titik alternatif yang efisien. Jika dimanfaatkan dengan tepat, keberadaan Dhoho tidak hanya menjadi solusi jangka pendek saat krisis.

Tetapi juga investasi jangka panjang bagi pengembangan kawasan selingkar Wilis. Dimas menegaskan, langkah proaktif sangat dibutuhkan agar peluang ini tidak terlewat.

Pendekatan langsung ke maskapai menjadi kunci untuk membuka akses awal. Jika berhasil, Bandara Dhoho berpotensi masuk dalam peta penerbangan internasional sebagai bandara alternatif.