Refleksi Jumat Ramadhan: Menjaga Lisan dan Mata demi Kesempurnaan Pahala Puasa

Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al-Ikhlash, Jalan Pemuda, Kota Kediri pada pelaksanaan salat Jumat (27/2/2026). Momentum ini bertepatan dengan hari ke-9 Ramadan 1447 H bagi warga yang mengikuti ketetapan Pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU), serta hari ke-10 Ramadan bagi warga Muhammadiyah.

Dalam khutbahnya, khatib menekankan pentingnya menjaga kualitas ibadah puasa agar tidak sekadar menjadi ritual menahan lapar dan dahaga. Fenomena “puasa yang sia-sia” menjadi sorotan utama guna mengingatkan jemaah akan esensi ketakwaan yang sesungguhnya.

Khatib memaparkan bahwa banyak umat Muslim yang terjebak pada pemenuhan syarat sah puasa secara fiqih, namun mengabaikan aspek moral dan etika. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits:

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Penyebab utama hilangnya pahala tersebut adalah ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan anggota tubuh, terutama mulut dan mata, meskipun ia berhasil menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual.

Lebih lanjut, khatib merinci lima hal yang dapat menggugurkan pahala puasa. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW, perkara tersebut meliputi:

  • * Berdusta (Al-Kadzib)
  • * Ghibah (Rasan-rasan/Menggunjing)
  • * Adu Domba (An-Namimah/Provokasi)
  • * Sumpah Palsu
  • * Memandang Lawan Jenis dengan Syahwat

“Puasa yang berujung pada pahala haruslah bersih. Kita dituntut mengendalikan lisan dari kata-kata kotor dan menjaga pandangan dari objek yang dilarang agama. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa Allah tidak butuh pada amal hamba-Nya yang meninggalkan makan dan minum, namun tetap melakukan kedustaan,” tegas Khatib di mimbar.

Di akhir khutbah, sedikitnya ada dua poin besar sebagai kesimpulan dan pesan bagi para jama’ah:

  • Peningkatan Ketakwaan: Takwa adalah satu-satunya jalan yang menjamin kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah: 183: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
  • Puasa yang Benar secara Substansi: Puasa tidak boleh hanya berhenti pada sah secara syariat (menahan lapar dan haus), tetapi harus mampu mentransformasi diri menjadi pribadi yang lebih baik dengan harapan meraih rida dan pahala dari Allah SWT.

Melalui momentum Jumat Ramadan ini, jama’ah diharapkan kembali mengevaluasi kualitas puasanya agar predikat muttaqin (orang yang bertakwa) dapat benar-benar terwujud pasca bulan suci berakhir.