Surabaya ( cokronews.com )— Program Kemangi (Kelas Remaja dan Orang Tua Tangguh, Kreatif, dan Mandiri) di Surabaya ini pada dasarnya bukan sekadar kegiatan pelatihan biasa, tapi sudah masuk ke pendekatan pencegahan masalah sosial berbasis keluarga.
Inti yang dilakukan Pemkot Surabaya adalah menggeser fokus penanganan kenakalan remaja—seperti tawuran dan geng motor—dari pendekatan represif (penertiban) menjadi preventif melalui penguatan relasi orang tua dan anak. Di sini, keluarga diposisikan sebagai “benteng pertama” sebelum intervensi sekolah atau aparat.
Yang menarik, program ini tidak hanya menyasar anak, tapi juga orang tua sebagai peserta aktif, bahkan sampai ada “wisuda” 824 peserta dari 31 kecamatan. Ini menunjukkan bahwa pemerintah kota ingin membangun standar baru: orang tua juga perlu “dilatih” dalam komunikasi, bukan hanya mengandalkan insting pengasuhan.
Pendekatan Wali Kota Eri Cahyadi juga cukup khas: menekankan kedekatan emosional sebagai kunci utama pencegahan masalah remaja. Cerita personal tentang membangun komunikasi dengan anaknya sendiri dipakai sebagai contoh bahwa kedekatan itu harus dibangun sejak dini dan konsisten, bukan saat masalah sudah muncul.
Secara desain kebijakan, Kemangi ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH), tapi dengan target usia anak yang berbeda. Kalau SOTH fokus pada orang tua balita, Kemangi masuk ke fase yang lebih rawan: remaja Gen Z, di mana risiko konflik sosial, pencarian identitas, dan pengaruh lingkungan jauh lebih besar.
Kalau dilihat dari target jangka panjang—menjangkau 153 kelurahan dan 1.360 RW—ini sudah mengarah ke model intervensi sosial berbasis komunitas total, bukan program sporadis. Bahkan pelibatan kampus lewat mahasiswa menunjukkan upaya memperluas sumber daya edukasi di luar struktur pemerintah.
Singkatnya, Kemangi ini bukan hanya program pendidikan orang tua, tapi juga strategi sosial untuk “mengunci” lingkungan remaja di level keluarga agar tidak mudah terdorong ke perilaku menyimpang.
Kalau kamu mau, aku bisa bandingkan program Kemangi ini dengan program MBG di Malang atau TPBIS di Tuban—karena semuanya sebenarnya sama-sama masuk ke pola besar: intervensi sosial berbasis layanan dasar, tapi dengan pendekatan yang berbeda (gizi, literasi, dan keluarga).













