Ponorogo (cokronews.com) — Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo mencatatkan kemajuan pesat setelah naik status dari institut. Tujuh orang dosen kampus negeri di Ponorogo itu secara bersamaan dikukuhkan sebagai guru besar pada Sabtu (19/7/2025).
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Prof Dr H Amin Suyitno M.Ag yang hadir dalam acara pengukuhan menyebut gelar guru besar adalah puncak tertinggi dalam karir akademik dosen. Jabatan guru besar mengandung tanggung jawab moral dan spiritual, khususnya dalam bidang ilmu ke-Islam-an. Dia mendorong para guru besar untuk terus berkarya sehingga menjadi pihak pertama yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
“Lebih dari sekadar gelar, tapi juga Maha Guru yang membawa tanggung jawab teologis, terlebih jika mengampu bidang keilmuan agama,” terang Amin Suyitno saat memberi sambutan pada acara Pengukuhan Guru Besar UIN Kiai Ageng Muhammad Besari yang berlangsung di Graha Watoe Dhakon itu.

Pengukuhan tujuh guru besar sekaligus juga menegaskan komitmen UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo dalam menyumbangkan pemikiran dan karya yang berdampak luas bagi masyarakat. Amin Suyitno juga menyampaikan amanah dari Menteri Agama agar para guru besar membawa semangat perubahan yang transformatif di tengah masyarakat. Pihaknya mengajak para akademisi untuk menjadikan riset mereka sebagai kontribusi nyata dalam menjawab tantangan zaman baik dalam bidang pendidikan, sejarah peradaban, ekonomi syariah, maupun isu-isu kontemporer termasuk krisis iklim yang sedang ramai diperbincangkan dunia. “Sudah saatnya agama hadir pada pendekatan lingkungan. Mengedukasi masyarakat untuk peka melalui pendekatan agama, bahkan di unit terkecil seperti kebersihan lingkungan,” ujarnya meneruskan pesan Menag.
Sementara itu, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko mengungkapkan rasa bangga dan apresiasinya atas capaian luar biasa UIN Kiai Ageng Muhammad Besari. Kang Giri menilai pengukuhan tujuh guru besar secara bersamaan adalah tonggak penting. Tidak hanya mengangkat marwah lembaga, tetapi juga membawa dampak positif bagi daerah. “UIN tidak hanya menumbuhkan generasi intelektual, tetapi juga menjadi penggerak perekonomian daerah. Aktivitas akademik, mahasiswa, hingga kolaborasi riset sangat potensial untuk mendukung kemajuan Ponorogo secara menyeluruh,” terangnya.

Kang Giri juga menekankan pentingnya agar karya-karya ilmiah para guru besar tidak berhenti di ruang akademik semata. Melainkan dapat diterjemahkan sebagai solusi nyata bagi persoalan yang muncul di tengah masyarakat. “Kami berharap hasil riset dan pemikiran dari para guru besar ini bisa hadir dalam kehidupan sehari-hari, menjawab persoalan sosial, ekonomi, hingga keagamaan masyarakat Ponorogo. Ini bentuk sinergi antara kampus dan pemerintah daerah,” imbuhnya.
Tujuh guru besar yang dikukuhkan berasal dari berbagai disiplin keilmuan Islam yang strategis dan relevan dengan kebutuhan zaman. Yakni, Prof Dr H Sutoyo MAg (Guru Besar Bidang Ilmu Tasawuf) Prof Dr Ahmad Choirul Rofiq MFil I (Guru Besar Bidang Sejarah Peradaban Islam), Prof Dr H Muhammad Thohir MPd (Guru Besar Bidang Manajemen Mutu Pendidikan Islam), Prof Dr Hj Khusniati Rofiah MSI (Guru Besar Bidang Hukum Ekonomi Syariah), Prof Dr Ju’subaidi, MAg (Guru Besar Bidang Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, Prof Iza Hanifuddin MAg PhD (Guru Besar Bidang Fiqh Muamalah), dan Prof Dr Muh Tasrif MAg (Guru Besar Bidang Tafsir Tematik Isu-Isu Sosial). Ketujuh guru besar ini merupakan dosen tetap yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN), dan telah melalui proses seleksi serta penetapan resmi oleh Kementerian Agama.











