Kajian di Musala Al-Ma’arif di Perum Griya Kota Asri ini dinamai Pengajian Masagi. Alias Pengajian Malam Sabtu Legi. Sesuai namanya, kajian hanya dilaksanakan sekali dalam satu bulan.
Pengajian Masagi ini sudah berjalan sekitar dua tahun. Dimulai sejak momentum Maulid Nabi pada 2023 lalu. Inisiatornya adalah Agus Muji Santoso, salah seorang penghuni Perumahan Griya Kota Asri, Kelurahan Singonegaran, Kota Kediri.“Awalnya itu dari kultum,” kata pria yang juga Wakil Rektor III Bidang Riset, Pengabdian, dan Inovasi Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri ini.
Ya, semuanya bermula pada Ramadan 2023. Kala itu, pria yang akrab disapa Agus itu ingin membuat kegiatan di Musala Al-Ma’arif menjadi lebih menarik dan ramai. Karenanya dia mencoba mengusulkan adanya kultum jelang buka puasa. Pengisi kajiannya adalah Agus Izzat Sya’roni, pengasuh P3TQ Al-Hidayah Kota Kediri. Usulannya pun mendapat respon positif serta penuh antusiasme dari warga perumahan.
“Saya lupa itu Rabu atau Jumat. Jadi setiap seminggu sekali, satu bulan sebanyak empat kali. Dan ternyata orang-orang senang,” cerita Agus saat ditemui di kampus tempat dirinya bertugas.
Pasca-kegiatan kultum tersebut, sebetulnya tidak ada lagi pengajian yang dilangsungkan di musala. Hingga akhirnya, momentum Maulid Nabi datang. Dia pun berinisiatif lagi untuk membuat kegiatan pengajian dengan mengundang Agus Izzat Sya’roni lagi. Dan respon warga di perumahan pun kembali positif.
Oleh karenanya, Agus berinisiatif lagi untuk mengajak Gus Izzat untuk mengisi pengajian di musala secara rutin. Sayangnya, ternyata Gus Izzat sudah memiliki jadwal yang padat. Setelah berdiskusi, akhirnya ketemu malam Sabtu Legi. Tepatnya setelah pukul 20.00 atau setelah Isya.
“Awalnya saya usul setiap malam Senin, ternyata nggak bisa. Terus saya bilang malam Rabu, ternyata Gus Izzat ada full ngaji. Terus ndak tahu, saya terlintas malam Sabtu Legi. Nyeplos saja dan ternyata kosong. Cuman nggak bisa sore, bisanya setelah Isya,” kenang pria berkacamata itu.
Sejak saat itu, Pengajian Masagi berlangsung rutin di musala Al-Ma’arif. Bukan saja pengajian, melainkan ada selingan rebana atau hadrah Hikmatul Mustofa. Awalnya pengajian dilaksanakan secara sederhana bersama warga perumahan. Namun kini masyarakat umum bisa ikut serta dalam Pengajian Masagi ini. Bahkan warga yang ikut pengajian bisa lebih dari seratus orang.
Namun demikian, ada perjuangan yang dilakukan Agus dan warga perumahan untuk menggaungkan Pengajian Masagi ini. Pada tahun pertama, dia dan beberapa warga menyebar undangan ke rumah-rumah warga. Itu dilakukan secara door to door. Kemudian di undangan itu ada isian untuk titip doa.
“Dari situ ada yang infaq,” lanjutnya sembari menyebut ada sekitar seratus undangan yang disebar setiap menjelang Pengajian Masagi.













