Kediri (cokronews.com) — Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri mendatangi sepuluh pasar tradisional di Kota Kediri untuk melakukan pengambilan data harga komoditas pangan di pedagang tingkat konsumen di luar responden penyedia data harian, Rabu (30/7). Kesepuluh pasar tersebut di antaranya: Pasar Pesantren, Selowarih, Centong, Banjaran, Pahing, Mrican, Bandar, Ngronggo, dan Campurejo.
Upaya tersebut ditempuh sebagai penentu arah kebijakan bidang ketahanan pangan. “Data harga pangan sebagai variabel masukan analisis, saat ini menjadi salah satu hal penting dalam menentukan arah kebijakan bidang ketahanan pangan,” ujar Moh. Ridwan, Kepala DKPP Kota Kediri.

Kegiatan pengambilan data dilakukan secara acak kepada tiga puluh pedagang minyak goreng, aneka bawang, dan cabai. Adapun hasil enumerasi data harga harian selanjutnya dilakukan analisis Indikator Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), untuk mengidentifikasi komoditas yang terindikasi aman, waspada, atau perlu intervensi.
“Hasil analisis yang dilakukan DKPP selama ini sudah rutin kita laporkan ke Mbak Wali melalui Pak Sekda” ujar Ridwan. Sejalan dengan hal itu, Pemerintah Kota Kediri pun turut mendukung program Pemerintah Pusat seperti: bantuan pangan beras dan penyaluran beras SPHP di pasar-pasar Kota Kediri. Pemerintah Kota Kediri juga melakukan langkah-langkah stabilisasi dan intervensi dengan Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Operasi Pasar.

“Mengingat begitu pentingnya data harga pangan, tentu perlu dilakukan evaluasi untuk menambah keyakinan kami. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengecekan di lapangan untuk membandingkan data yang didapat dengan data yang rutin kita ambil dari penyedia data/responden yang bekerja sama dengan DKPP selama ini,” terangnya.
Berikut data selisih harga pada kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap data rata-rata dari responden mitra penyedia per hari ini Rabu (30/7). Harga rata-rata komoditas beras premium selisih Rp8/kg (lebih tinggi), beras medium Rp345/kg (lebih tinggi), minyak goreng curah Rp1.800/kg (lebih tinggi), bawang merah Rp2.758/kg (lebih rendah), dan cabai rawit Rp5.941/kg (lebih tinggi). “Perbedaan berkisar antara 1 s.d. 15%, perbedaan tertinggi pada komoditas cabai rawit merah. Perbedaan ini dapat dimaklumi, karena sasaran monev adalah pedagang pasar,” pungkasnya.
