Kasus DBD di Kediri Mulai Melandai, tapi Ini Pesan Pemkab Kediri

Kediri (cokronews.com) —- Mei ini tren kasus demam berdarah dengue (DBD) cenderung turun. Setidaknya, awal Mei ini belum ditemukan kasus baru di wilayah Kediri. Meski demikian, masyarakat tetap diminta mewaspadai ancaman penyakit akibat gigitan nyamuk aedes aegypti ini.
Data yang dihimpun koran ini dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri menyebutkan, hingga awal Mei ini total ada temuan 218 kasus. Sebanyak 42 kasus ditemukan Januari lalu. Kemudian, Februari naik menjadi 64 kasus. Adapun Maret dan April masing-masing 60 dan 54 kasus. “Tren DBD memang turun,” kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Kediri dr Bambang Triyono Putro.

Selama tiga hari di awal Mei, menurut Bambang juga belum ada laporan kasus DBD baru. Meski ada tanda-tanda penurunan, menurut Bambang kasus DBD tetah harus diwaspadai oleh masyarakat. Apalagi, beberapa bulan lalu sempat melonjak tinggi.

“Kesadaran masyarakat untuk mencegah DBD harus tetap tinggi. Tidak boleh lalai,” lanjut Bambang sembari menyebut perilaku hidup bersih dan sehat bisa mencegah perkembangan nyamuk dan mencegah terjadinya kasus DBD.
Bambang menegaskan, kasus DBD paling tinggi terjadi pada Februari lalu. Saat itu, curah hujan di Kabupaten Kediri masih relatif tinggi. Ditambah lagi, masyarakat fokus pada pemilu hingga kewaspadaan akan DBD berkurang.
Agar peningkatan kasus yang sama tak terulang, menurut Bambang pihaknya mengambil langkah cepat penanganan kasus. Jika ditemukan kasus DBD di satu daerah, tim dari dinas kesehatan akan langsung turun untuk melakukan pengasapan atau fogging.

“Sesuai pergub terkait pengendalian DBD, (mekanisme, Red) fogging dilakukan sesuai fokus yang ada. Untuk pencegahan ditekankan pada pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 3M plus yang lebih efektif,” jelasnya.

Untuk diketahui, Mei ini intensitas hujan di Kediri Raya memang mulai menurun. Bambang memprediksi kasus DBD juga akan menurun. Meski demikian, masyarakat harus tetap melakukan PSN. Yaitu, dengan mengubur barang bekas, menutup tempat penampungan air, dan menguras bak mandi.

“PSN 3M plus adalah pencegahan terbaik kasus DBD. Masyarakat harus berperan aktif dalam kegiatan ini,” paparnya.
Masyarakat, lanjut Bambang, juga harus mewaspadai jika ada anggota keluarganya yang menderita demam lebih dari tiga hari.
“Kalau demam tinggi lebih dari tiga hari harus segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan terdekat,” tandasnya sembari menyebut penanganan DBD yang tepat akan menghindarkan pasien dari kefatalan.

Seperti diberitakan, pada 2024 ini total sudah ada empat warga Bumi Panjalu yang meninggal akibat DBD. Semuanya adalah pasien anak-anak. Kefatalan yang berujung meninggalnya pasien ini terjadi karena pasien terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan.

Pasien baru mendapat perawatan setelah dalam kondisi syok atau parah. Sehingga, tidak bisa lagi tertolong. Karena itu pula, Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri meminta masyarakat untuk segera membawa keluarganya ke fasilitas kesehatan terdekat jika menderita demam tinggi selama lebih dari tiga hari.(adv)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *