Harga Belum Ideal, Produksi Susu di Kediri Masih Jauh dari Kebutuhan

Menurutnya, hal itu juga dipengaruhi kualitas susu. Terkadang kualitas di tingkat peternak belum memenuhi syarat tertentu. Sehingga harga menyesuaikan.

“Kadang terkait kadar lemak,” jelasnya sembari menyebut di Kabupaten Kediri tidak sampai menolak susu peternak lokal.

Dia mengatakan mayoritas peternak sapi perah di Kabupaten Kediri menjadi anggota KUD. Intervensi pemerintah dilakukan bersinergi dengan KUD. Baik melalui program vaksin, bimtek, maupun sosialisasi KUR untuk modal sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan peternak.

Selain berusaha meningkatkan kualitas susu yang dihasilkan, pemerintah juga mendorong upaya lain. Seperti membuat olahan susu seperti yoghurt dan lainnya.

“Mendorong KUD membuat olahan susu agar nilai ekonomis naik. Apalagi sekarang banyak dibutuhkan untuk MBG (program makan bergizi gratis, Red),” tekan Tutik.

Agus Purnomo, pengurus Koperasi Unit Desa (KUD) Kertajaya Medowo menjelaskan, saat ini ada sekitar 300 peternak yang bergabung di KUD-nya. Itu tidak termasuk dengan petani yang ikut pada koperasi lainnya.

Selanjutnya, dari total petani tersebut, produksi susu yang dihasilkan bisa mencapai 9 – 10 ton per hari. Praktis, setiap bulan bisa mencapai sekitar 30 ton susu yang dihasilkan di Desa Medowo. Jumlah yang sebetulnya masih jauh dari permintaan susu secara nasional.

Menurut Agus, kontraksi terbesar terhadap produksi susu sapi terjadi pada saat terjadinya penyakit PMK. Kala itu, produksi menurun hingga tujuh ton per harinya. Bahkan situasi itu disebutnya sempat membuat koperasi kolaps.

“Sebelum PMK, dari Medowo dan luar Medowo itu bisa sampai 19 ton. Setelah itu turun sampai tujuh ton. Tapi sekarang trennya (produksi, Red) naik lagi,” bebernya.

Leave a Reply