Cokronews BANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi terus menunjukkan berbagai inovasi di bidang pendidikan hingga menarik perhatian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti. Ia bahkan meminta Bupati Ipuk Fiestiandani untuk mempresentasikan program-program unggulan daerah tersebut di forum nasional.
Menurut Mu’ti, sejumlah langkah yang dilakukan Banyuwangi tergolong kreatif dan strategis, serta berpotensi diterapkan secara lebih luas di tingkat nasional guna meningkatkan pemerataan mutu pendidikan di Indonesia.
Salah satu program yang mendapat perhatian adalah Garda Ampuh (Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah). Program ini bertujuan membantu masyarakat yang sempat terhenti pendidikannya—baik karena keterbatasan akses maupun faktor lainnya—agar bisa kembali belajar. Model ini dinilai bisa menjadi contoh bagi daerah lain dalam memberikan akses pendidikan yang lebih inklusif.
Selain itu, terdapat program Gerakan Rindu Bulan (Rintisan Desa Tuntas Belajar 12 Tahun) yang fokus meningkatkan rata-rata lama sekolah dengan mengajak anak-anak yang putus sekolah maupun orang dewasa untuk kembali mengikuti pendidikan kesetaraan.
Banyuwangi juga memiliki program Agage Pinter (Agar Cepat Pintar) yang mendorong penguatan sekolah inklusi. Lewat program ini, anak berkebutuhan khusus mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar di sekolah reguler bersama siswa lainnya.
Inovasi lain adalah Siswa Asuh Sebaya (SAS), di mana para pelajar dari tingkat SD hingga SMA diajak untuk secara sukarela mengumpulkan bantuan bagi teman-teman mereka yang kurang mampu. Program ini tidak hanya membantu secara ekonomi, tetapi juga menanamkan nilai empati sejak dini.
Pengembangan dari program tersebut melahirkan Sekolah Asuh Sekolah (SAS Jilid III), yang mengedepankan kolaborasi antar sekolah. Sekolah dengan fasilitas dan sumber daya manusia yang lebih baik diharapkan dapat membantu sekolah lain yang masih membutuhkan dukungan, sehingga kesenjangan kualitas pendidikan dapat ditekan.
Tak hanya itu, pemerintah daerah juga menggagas program Akselerasi Sekolah Masyarakat (AKSARA), yang ditujukan bagi warga berusia di atas 20 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan dasar. Program ini menargetkan agar peserta minimal memperoleh ijazah setara SMA.
Langkah ini sekaligus mendukung peningkatan rata-rata lama sekolah, yang menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian oleh Badan Pusat Statistik.













