Kediri ( cokronews.com )— Sebanyak 206 guru taman kanak-kanak (TK) dan tutor Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kota Kediri mengikuti pelatihan pendampingan anak berkebutuhan khusus (ABK) yang digelar Dinas Pendidikan Kota Kediri di Aula Ki Hajar Dewantara, Selasa (12/5/2026).
Pelatihan tersebut digelar sebagai upaya memperkuat pendidikan inklusif sekaligus meningkatkan kemampuan tenaga pendidik dalam menciptakan lingkungan belajar yang ramah, aman, dan penuh empati bagi anak disabilitas.
Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi tentang deteksi dini anak berkebutuhan khusus serta strategi pendampingan di lingkungan pendidikan. Sedangkan hari kedua difokuskan pada praktik lapangan agar guru dapat memahami pendekatan yang tepat saat berinteraksi langsung dengan ABK.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Mandung Sulaksono, menegaskan bahwa pendidikan inklusif tidak hanya berbicara soal kurikulum dan ruang kelas, tetapi juga tentang bagaimana setiap anak merasa diterima dan dipahami.
“Menjadi tenaga pendidik bukan hanya mengajar materi, tetapi juga memahami karakter dan potensi setiap anak, terutama anak berkebutuhan khusus,” ujarnya.
Menurut Mandung, pendampingan terhadap ABK membutuhkan kesabaran, kasih sayang, serta pendekatan yang tepat agar proses belajar berjalan optimal dan menyenangkan.
“Mendampingi anak berkebutuhan khusus harus dengan hati. Setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda,” katanya.
Ia menambahkan, pendidikan inklusif kini menjadi perhatian penting karena seluruh anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan pendidikan tanpa diskriminasi.
Melalui pelatihan tersebut, para guru diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif, inovatif, dan efektif sehingga peserta didik merasa nyaman selama proses belajar.
Selain pelatihan, Dinas Pendidikan Kota Kediri juga akan melakukan monitoring rutin melalui pengawas sekolah dan penilik guna memastikan penerapan pendidikan inklusif berjalan optimal di satuan pendidikan.
Sementara itu, Wali Kota Kediri turut mengapresiasi pelaksanaan workshop tersebut. Menurutnya, peningkatan kompetensi guru sangat penting dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi anak usia dini.
“Pembelajaran yang menyenangkan akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan peserta didik. Guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang kreatif dan tidak monoton agar anak tidak cepat bosan,” tuturnya.













