Nganjuk (cokronews.com) — Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk atau yang biasa dikenal sebagai Kopling ini dibentuk pada 14 Februari 2018 dan berlokasi di Dusun Sugihwaras, Desa Mlorah, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk yang juga dijadikan sebagai basecamp komunitas ini.
Komunitas literasi ini didirikan dari kegelisahan menurunnya minat baca serta sempitnya ruang untuk berekspresi melalui tulisan, khususnya di Kabupaten Nganjuk. Dibentuk dengan semangat kebersamaan dan kecintaan pada ilmu baca tulis dan menjadi penyambung antara pengetahuan dan masyarakat.
Saat ini jumlah anggota yang terdaftar resmi sebanyak 139 orang. Komunitas ini seringkali diundang ke berbagai sekolah untuk mengisi kegiatan-kegiatan literasi dan sastra. Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk (Kopling) juga didukung oleh Pemerintah Daerah Nganjuk dibuktikan dengan memfalitasi komunitas ini dalam pameran buku terbitan dari kami sebagai penerbit buku asli lokal Nganjuk.
“Kami hadir sebagai gerakan akar rumput yang berkomitmen untuk menumbuhkan budaya membaca dan menulis di tengah masyarakat. Di tengah tantangan rendahnya minat baca dan dominasi budaya instan, kami terus bergerak dari desa ke desa, dari sekolah ke sekolah, menyemai semangat literasi melalui berbagai program yang inklusif dan partisipatif,” ujar Heru selaku Direktur Program sekaligus Ketua Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk.
Heru juga menyampaikan harapnnya akan gerakan literasi di Nganjuk ini tidak sekadar menjadi program musiman, melainkan tumbuh menjadi budaya yang hidup di setiap sudut desa, sekolah, dan keluarga.
“Kami mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari membacakan cerita untuk anak-anak, berdiskusi di keluarga, hingga menulis pengalaman dan pemikiran. Literasi memperkuat karakter, membuka peluang, dan memperluas cara pandang kita terhadap kehidupan. Dengan literasi, kita tidak hanya mencetak generasi cerdas, tetapi juga generasi yang peduli, kritis, dan siap membangun masa depan. Mari kita jadikan gerakan literasi sebagai gerakan bersama. Karena ketika masyarakat melek literasi, maka masa depan menjadi lebih cerah dan berdaya,” tutupnya. (Akhir Kristiono)